Jumat, 30 Mei 2008

MERAIH SUKSES BERSAMA KOMPUTER

Oleh yuniati


Aku adalah seorang tunanetra lulusan dari Sastra Indonesia UPI Bandung. Saat ini aku mengajar di SLB Padjajaran Bandung. aku juga mengajar di yayasan swasta (Mitranetra) Bandung. Kedudukanku hanyalah seorang guru bahasa Indonesia dan komputer. Aku merasa banga karena aku juga mampu membawa anak didikku kedalam dunia canggih. Meski banyak rintangan dan hambatan untuk mendidik anak yang berkebutuhan kusus (pendidikan luarbiasa), namun aku tiddak pernah putusasa seperti ketika aku masih menjadi siswa. ketika aku masih menjadi siswa, aku ingin sekali menjadi pendidik yang berhasil meskipun aku seorang tunanetra,aku tidak mau kalah dengan mereka (orang normal)yang serba bisa memanfaatkan tehnologi canggih. oleh karena itu aku sangat bersungguh-sungguh dalam mempelajari tennologi informasi dan komunikasi (TIK). Dalam dunia tunanetra, computer yang digunakan adalah computer biasa yang digunakan oleh orang-orang normal (bukan penyandang cacat netra). Bedanya hanyalah, computer untuk tunanetra telah dilengkapi dengan program aplikasi software screen reader (pembaca layer). Hal ini screen reader yang digunakan adalah JAWS for windows.

Semula aku ragu dan takut tidak berhasil, sebab menghadapi anak yang berkebutuhan kusus itu tidak mudah, ada yang keinginannya tinggi tapi tidak sesuai dengan kemampuan, ada yang saraf motoriknya lemah sementara mereka dituntut untuk bisa karena computer termasuk salah satu program pembelajaran di Sekolah kami. Aku mempunyai murid bermacam-macam karakter dan kemampuan dalam mempelajari mata pelajaran computer oleh karena itu aku dituntut untuk sabar menghadapi murid-muridku. Banyak hal menarik yang aku alami selama mengajar computer. Contoh: Aku punya seorang murid yang sangat kecil kemungkinan dapat belajar computer. Saraf motoriknya lemah, apa yang didengar oleh anak tersebut tidak sesuai dengan yang diucapkan oleh JAWS serta daya ingatnya kurang. Kesungguhanyalah yang membuat anak tersebut semangat. Ketika aku mulai mengenalkan fungsi computer dan tombol-tombol pada kybort, aku sedikit ragu takut tidak berhasil karena jari-jari tanganya yang susah untuk meletakan posisi pada tombol kybort yang sesuai dengan fungsinya, karena untuk memudahkan tunanetra dalam menghadapi computer adalah harus mampu mengetik sepuluh jari. Ahirnya aku mencoba dengan hatihati kutarik jarinya satu persatu dan kuletakan pelan-pelan pada tombol kybort sesuai dengan fungsinya. Lalu kuminta kepada anak tersebut untuk mengulang, menyebutkan dan mempraktikanya. Berkali-kali dia berlatih dengan materi pengenalan kybort. Dia sering sekali melakukan kesalahan seperti kuminta menekan huruf D yang ditekan malah huruf E. padahal sudah kucoba terus menerus membimbing dia untuk menghafal dan mepraktikan menulis “asdfghjkl;” tapi masih juga sering salah. Ahirnya aku mencari cara dan memilih kybort yang pada huruf F dan J terdapat titik sebagai patokan supaya dia tidak kehilangan pegangan.kini kuyakinkan kepadanya bahwa “patokan yang harus kau ingat adalah pada huruf J untuk jari telunjuk sebelah kanan yang terdapat titik kecil dan huruf F untuk jari telunjuk sebelah kiri juga terdapat titik sebagai patokan dan jari lainya menyusul sesuai dengan urutanya!” Kini dia mulai mencoba dan sedikit berhasil, lalu kutambahkan tombol-tombo bagian atas dan bagian bawah sesuai dengan tugas jarinya. Selanjutnya dia mulai belajar menghafal tombol-tombol pada numpade (fungsinya mengerakkan cursor kekanan, kekiri atau pada posisi cursor sebagai pembaca. nampaknya dia telah menguasai tombol-tombol pada kybort, mengetiknya juga mulai lancer.

Kali ini dia memasuki program baru yaitu (berlatih mendengarkan suara JAWS). aku menuliskan sebuah kalimat lalu kuminta anak tersebut untuk membacakan serta menirukan apa yang diucapkan JAWS seperti: "kita harus belajar bersungguh-sungguh untuk mencapai keberhasilan" tapi anak tersebut salah dengar menjadi: "kita terus belanja bersungguh-sungguh untuk menggapai keabadian". rupanya anak tersebut masih belum jelas ucapan JAWS. memang (speech synthesizer dialegnya masih menggunakan dialeg Amerika, namun tulisanya tidak berpengaruh). ahirnya dia kuminta untuk mengejah perkata, ketika dia masih salah dengar kuminta mengejah perhuruf. Ternyata ketika dia mengejah perhuruf dan mengerti maksud tulisan saya, ia tertawa geli dengan keselahanya. Meskipun anak ini dalam pendengaran JAWSnya kurang, tapi ia dituntut agar berlatih sedikitnya mampu untuk memahami isi wacana dalam computer atau bagaimana cara memanggil program tanpa bantuan instruktur. Kini dia mulai belajar memanggil program sendiri. diantaranya: Microsoft word, my computer, my document, CD dan masih banyak lagi yang kini sudah mulai dia lakukan. Aku bangga melihat keberhasilanya. Kini dia mulai kreatif mencoba mengeksplorasi computer sendiri, bahkan saat ini dia sering membaca pelajaran, karia-karia umumm yang dikemas dalam Ebook (Elektronik book berupa CD). Terkadang aku merasa kualahan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan seperti: “bu, mengapa ketika saya mengecek title computer JAWS mengatakan no windows aktif. Padahal ketika saya menekan alt plus tab, dia mengatakan data (D) bukankah no windows aktif artinya tidak ada jendela yang aktif?” lalu kujelaskan kepadanya bahwa yang dimaksud (no windows aktif) disini adalah tidak ada jendela yang aktif dihadapan kita, ketika kau menekan alt plus tab, berarti kamu telah berpindah dari program lain yang tadi sempat trbuka. Mungkin tanpa sengaja kamu telah mengaktifkan program lain yang tidak kau kehendaki.” Aku merasa sedikit puas dengan kemajuanya yang menurut pengamatanku cukup bagus untuk kemampuan anak seperti dia.

Meskipun dengan langkah yang tertatih-tatih anak itu tekatnya besar. Bagi dia tak cukup belajar computer sampai disini. Dia ingin seperti murid-murid yang lain, yang mampu mengacces internet. Sebelum mengacces internet sebagai siswa pemula, saya selalu menjelaskan tentang internet: pengertian internet, situs atau web site serta jaringan internet baru mengexplorasi internet. Kini aku mencoba meminta kepada anak tersebut untuk membuka program internet explorer. Setelah program Microsoft internet terbuka, aku mengenalkan situs pencarian. Situs pencarian yang saya kenalkan adalah Google. Ketika dia telah membuka situs Google dan mengaktifkan menu edit, aku meminta menuliskan artikel yang dia kehendaki. Lalu kuminta menekan tab sampai JAWS mengatakan (saya lagi beruntung button). Lagi-lagi anak tersebut salah dengar. Yang terdengar oleh anak tesebut (saya lagi berantem button.) ternyata anak tersebut masih kurang mampu memahami suara JAWS. Lalu kuminta untuk membaca ulang dengan menekan tombol insert plus 8 pada num pade. Setelah dia mendengar dan mengejah per kata dia mengerti apa yang dimaksud oleh computer. Lalu dia menekan enter. JAWS memberi tanda bahwa situs telah tampil dengan membacakan isi web site yang bersangkutan. Setelah halaman web tampil, anak tersebut menelusuri dengan mengerakan panah atas/bawah sampai menemukan link tersebut dan menekan enter. Setelah berhasil, anak tersebut mencoba mencari sebuah puisi tanpa dipandu oleh instruktur. Setelah berhasil, spontan anak tersebut teriak bangga. Akupun tak lupa memberi applause agar dia lebih semangat.

sebagai seorang guru, aku sangat bangga menyaksikan keberhasilan anak didiku terutama yang daya ingatnya serta saraf motoriknya lemah. Aku telah mengantarkan anak didiku menujusukses.